Kesesatan berpikir dalam logika dan penerapan dalam hukum

Belajarhukum.tk - Kesesatan berpikir dalam logika dan penerapan dalam hukum. 

Pengetian dan Contoh dari Argumentum ad Baculum

Argumentum ad baculum adalah pembenaran argumentasi atas dasar kekuasaan. Argumentasi diajukan disertai dgn pengaruh/ justifikasi dan memaksakan pembenaran sebuah kesimpulan dgn intimidasi.
Argumentum ad baculum merupakan argumen ancaman yang mendesak orang untuk menerima suatu konklusi tertentu dengan alasan bahwa jika ia menolak akan membawa akibat yang tidak diinginkan.[1]
Secara bahasa ‘Baculum’ artinya ‘tongkat’. Maksudnya, kesesatan ini timbul kalau penerimaan atau penolakan suatu penalaran didasarkan atas adanya ancaman hukuman. Jika, kita tidak menyetujui sesuatu maka dampaknya kita akan kena sanksi.kita menrima sesuatu itu karena terpaksa, karena takut bukan karena logis.
contoh:
1.      Seorang anak yang belajar bukan karena ia ingin lebih pintar tapi karena kalau ia tidak terlihat sedang belajar, ibunya akan datang dan mencubitnya
2.      Jika Anda tidak mengirimkan pesan ini, Anda tidak akan pernah hidup tenang selama 15 tahun.
3.      Contoh: Saksi menandatangani BAP setelah diintimidasi.
4.      Kamu akan saya pecat jika terus membantah.
5.      Ambil tasmu dan keluar dari ruangan ini atau kupanggilkan satpam.[2]

Penerapan dalam Hukum dari Argumentum ad Baculum
Penilangan/denda yang diberikan kepada para pengendara motor dan mobil yang tidak  mentaati aturan lalu lintas.
contoh yang dihasilkan : Pengendara motor yang berhenti pada lampu merah bukan karena ia menaati peraturan tetapi karena ada polisi yang mengawasi dan ia takut ditilang.
2.3.2 Argumentum ad Populum
Pengetian dan Contoh dari Argumentum ad Populum

Argumentum ad populum adalah argumentasi yg keliru, namun kekeliruan itu diterima umum/salah kaprah dan Kesimpulan datanya tidak ada atau tidak lengkap.
Argumentum ad populum merupakan argumen yang keliru, yang mengambil kesimpulan bahwa suatu proposisi itu benar karena dipercayai oleh banyak atau kebanyakan orang. Dengan kata lain, ide dasar dari argumen adalah: "Jika banyak yang percaya hal itu, maka hal itu adalah benar. Kesesatan jenis ini terjadi karena sebuah argumen ditujukan kepada massa (orang banyak) dengan maksud menggugah perasaan. Argumentasi dibangun hanya untuk mendapat dukungan, dan tidak memperhatikan masalah benar – salah.[3]
contoh :
1.      Setiap ada kerusuhan selalu ada yg menunggangi.
2.      Mana mungkin agama yang saya anut salah, lihat saja jumlah penganutnya paling banyak di muka bumi.
  1. Anak-anak terlantar pendidikannya karena harga buku mahal.
  2. Para petani gagal panen karena harga pupuk mahal.
  3. Puluhan ribu buruh di-PHK karena krisis keuangan nasional
  4. Partai Kurcaci telah terbukti dan teruji. Kesimpulan: ‘Pilihlah Partai Kurcaci’

Penerapan Hukum dari Argumentum ad Populum
Perubahan dalam pancasila sila pertama ketuhanan dengan menjalankan syariat islam menjadi ketuhanan yang maha esa.[4]
Penolakan kebijakaan pemerintah dikarnakan banyak masyarakat yg tidak setuju dan tidak sependapat sehingga kebijakan tersebut dianggap buruk. Seperti kenaikan BBM yang membuat para nelayan susah melaut karna harga BBM yang mahal.
Adanya demonstrasi, pidato politik yang memancing masa untuk memihak dan sebagainya.
contoh :
1.      Dalam pemilihan seorang presiden yang dipilih oleh banyak orang, sehingga presiden tersebut tidak bisa disalahkan.
2.      Juga seperti pengambilan keputusan dalam pengadilan. Dalam pengadilan, juri mengambil keputusan dengan suara mayoritas, sehingga mereka akan selalu membuat keputusan yang benar.
contoh :
Keputusan hakim Sumatra Selatan yang membebaskan pelaku pembakran hutan, pada kasus ini banyak masyarakat yang menganggap buruk keputusan tersebut karna berdasarkan pendapat masyarakat, kerugian kerusakan yang ditimbulkan menimpa seluruh masyarakat. Oleh karena itu, banyak para nitizen yang mencela dan melakukan protes.
Sedangkan dalam hal kebijakan pemerintah, hakim telah banyak melakukan pertimbangan yang tidak bisa diputuskan secara semena-mena, karena keputusan yang dibuat oleh hakim tersebut telah dipertimbangkan secara bijaksana.




[1] Rizal Mustansir,2011,Filsafat Analitik,Rajawali:Jakarta,hlm.53
[2] Rizal Mustansir,2011,Filsafat Analitik,Rajawali:Jakarta,hlm.5
[3] Poedjawijatna,2002,Logika Filsafat Berpikir,PT. Rineka Cipta:Jakarta,hlm.72

[4] Soekarto.1976,Pandangan tentang Pancasila, Yayasan Proklamasi:Jakarta,hlm.54
r'/>

1 komentar:

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Sampaikan kirik dan saranmu melalui komentar, dilarang meninggalkan link aktif
EmoticonEmoticon